Archive for April, 2010

Tarbiyah Rasulullah

Tarbiyah Islamiyah diperlukan untuk mengubah kebodohan, keterbelakangan, penipuan, dan keburukan lainnya. Secara bahasa, tarbiyah berasal dari kata rabbaba-rabbaya-yurabbiya, yang artinya memperbaiki sesuatu dan meluruskannya.

Kata Ar-Rabbu yang ditujukan pada Allah SWT berarti pengajar, pendidik. ”Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqarah [2]: 31). Bisa pula berarti Pencipta dan Pemelihara sebagaimana Allah SWT nyatakan, ”Segala puji bagi Allah, Pencipta dan Pemelihara semesta alam.” (QS Al-Fatihah [1]: 2).

More >

Toleransi Shalahudin al-Ayubi

Pada suatu hari Shalahudin al-Ayubi sedang duduk di dalam perkemahan. Di saat dia sedang serius memberikan wejangan, tiba-tiba ada seorang perempuan kafir berdiri di depan perkemahannya. Perempuan berwajah muram ini berteriak dengan suara yang memekakkan telinga, sehingga suasana menjadi gaduh.

Melihat kejadian tersebut para prajurit segera bertindak menjauhkan perempuan itu dari perkemahan. Namun Shalahudin mencegah dan memerintahkan para prajurit agar membawa masuk perempuan itu. Begitu perempuan itu menghadap, pimpinan umat yang berhasil merebut kembali Jerusalem dari penguasaan Tentara Salib ini segera menanyakan hal yang menyebabkan perempuan itu bersedih. Ia menjawab, ”Anakku diculik dan suamiku disandera sebagai tawanan perang. Padahal suamikulah yang memberikan nafkah buatku.”

More >

URGENSI TARBIYAH AKHWAT MUSLIMAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan dan pilihan-pilihan. Manusia adalah makhluk dinamis, yang mampu mencerap perubahan, positif ataupun negatif, sehingga memungkinkannya berada dalam kondisi yang tidak permanen kebaikan atau keburukannya. Berbeda dengan malaikat yang permanen dalam kebaikan, dan setan yang permanen dalam kejahatan, manusia adalah makhluk yang perlu melakukan suatu usaha untuk menjadi baik, sebagaimana memerlukan suatu usaha untuk menjadi buruk.

Manusia memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi, pada saat yang bersamaan ia juga diberi kebebasan memilih jalan. Namun, apapun pilihan manusia,  jalan kebaikan atau memilih ke arah yang buruk, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah. Semuanya memiliki konsekuensi tersendiri. Allah berfirman:“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” (Al Isra’(17): 36). Tarikan-tarikan ke arah kebaikan dan keburukan berlangsung secara eternal dalam diri manusia sepanjang kehidupannya. Karena kondisi yang senantiasa berada dalam tarikan-tarikan kecenderungan seperti inilah, ia senantiasa memerlukan penguatan untuk perbaikan diri. Manusia memerlukan penjagaan yang bersifat terus menerus, karena kecenderungan dalam diri itupun berlangsung sepanjang hidup. Disinilah peran pembinaan diri (tarbiyah) mendapatkan tempat dan posisi yang signifikan.

More >

DIALOG IBLIS (ALAIHI LAKNAT) DENGAN RASULULLAH S.A.W

Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat bertemu Iblis supaya dia berjumpa dengan Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya; baik itu yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun bertemu Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar menyuruh engkau menghadap ke hadirat Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasia engkau dan apa-apa yang ditanya oleh Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan diputuskan segala suku-suku anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat keras”
More >

Detik-detik Rasulullah saw menjelang sakratul maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan AlQur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

More >